21 Juni, 2019

Dahsyatnya “Perasaan”

Diskusi tentang “politik” yang sedang panasnya malam itu (20 Juni, 2019) dengan Ibuku sangat menarik dimana simpulannya adalah disebabkan oleh “Perasaan”, yang mana kalau ngomong tentang perasaan muncullah dua kosa kata dengan makna timpang bagai langit dan bumi (bahkan ibuku mengatakan makna nya sama), Cinta dan Benci. Ya, kami membahas tentang Cinta, bagaimana seseorang mencintai insan lainnya.

Disclaimer: Ini bukan postingan politik praktis yang bermuatan provokasi, hasutan, memihak pada satu kubu tertentu lalu menghujat kubu lain! Ini hanyalah postingan tentang opini pribadi tentang permasalahan yang bersifat umum.

Setelah panjang lebar ngebahas tentang persidangan sengketa pemilu yang sementara berlangsung, diakhir obrolan membuatku mengeluarkan pertanyaan,

“Jadi saya bingung, sebenarnya apa yang membuat mereka setia terhadap pilihannya?”

“Ya, karena perasaan sudah berada diatas rasional. Pilihannya cuma dua, mereka mencintai junjungannya atau benci dengan lawan junjungannya. Begitu kan cara mengasumsikan pepatah terkenal ‘kalau sudah cinta, *** pun rasa cokelat'”

Hmm. Kalau dipikir – pikir benar juga. Ngga, memang benar karena kalau sedang dilanda situasi seperti itu saya sendiri susah mengelak! Betapa kuatnya perasaan hingga dia akan mengalahkan rasional bahkan segalanya. Meski dia seorang manusia idealis, intelektual, berpikiran logis, tapi kalau kadar perasaannya terpeleset sedikit melibihi kadar keseimbangan antara hati dan akal maka serangan pun akan dimulai.

Begitu pula sebaliknya, benci. Skenarionya begini, A vs B. Jika mereka sudah benci terhadap A meskipun si A ini secara umum lebih baik daripada si B, maka pembenci ini tidak akan pernah mau menaruh pandangannya terhadap si A. Meskipun ternyata dia ngga selamanya memilih si B juga sih.

“Pokoknya saya ngga mau si A karena inilah karena itulah, pokoknya NO!”

Beranjak dari situ, benarlah apa yang diajarkan oleh Rasulullah betapa pentingnya untuk tidak berlebih – lebihan mencintai (apapun di) dunia ini. Hanya apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya lah sepatutnya hati ini tertaut dengan sungguh – sungguh, karena jika cinta itu sudah berlabuh sesuai arahan Islam maka yakinlah cinta itu tidak akan disia siakan, itulah cinta yang sejati 😄