27 Oktober, 2019

I’m stop from Social Media

Bukan, tenang dulu. Kamu berpikir seperti ini?

“Ini orang kenapa sih? Padahal di bagian bawah blognya dia dicantumkan link sosial medianya”.

Ya itu benar, dan saya tidak berencana untuk menghapusnya. Karena maksudku bukan menghapus akun sosial media manapun, tapi saya berusaha untuk berhenti menggunakan sosial media secara berlebihan. Hal ini semakin menguat dan saya benar – benar mulai membatasi aktifitas sosial media ketika saya menggunakan wallpaper ini di smartphone milikku.

Konyol ya? Hanya karena wallpaper hape sampai ekstrim seperti itu. Salah! Keinginan untuk tidak terhanyut kedalam sisi negatif dari sosial media sudah ada sejak lama, entah kapan persisnya. Satu per satu saya mencoba mulai menggunakan seperlunya saja. Dimulai dari Facebook tepat sebelum saya melakukan KKN ketika kuliah sarjana kemarin, 2012. Lalu Google+, Instagram, LINE, WhatsApp, lalu terakhir yang paling sulit kutaklukkan, Twitter.

“Tunggu sebentar, WhatsApp? Bukannya WA itu aplikasi komunikasi ya?”

Ya benar, tapi semenjak di ambil alih oleh Facebook, WA semakin menjengkelkan menurutku. Menambahkan fitur – fitur sosial media yang sebenarnya tidak ada gunanya. Sekarang hampir semua aplikasi ada fitur “Status”. Menurutku, buat apasih menambahkan fitur tersebut di aplikasi komunikasi? Membuat bingung saja, padahal sosial media sudah banyak tempat di mana orang berbagi status.