18 Juli, 2018

Ramma Valley: Between Life and Death experience

Liburan Idul Fitri tahun ini merupakan jadwal liburan terpanjang sepanjang tahun. Delapan hari kerja ditetapkan sebagai cuti bersama atau jika dihitung beserta weekend maka totalnya adalah sebelas hari (10 – 20 Juni). Tentu jadwal panjang tersebut akan memicu hasrat setiap orang yang tinggal di Indonesia untuk berlibur ke suatu tempat. Tak terkecuali saya dan lima teman yang kemudian akan menjadi tim Azimuth 330.

Tak bisa kuingat kapan tepatnya kami awalnya merencanakan kegiatan liburan ini lalu akhirnya memutuskan untuk camping di lembah Ramma, sebuah tempat yang berada di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Mungkin ketika kami i’tikaf di mesjid kampus dan berdiskusi disana.

18 Juni 2019

Dua hari lagi sebelum liburan panjang ini berakhir, saya (Ik) bersama lima orang teman lainnya (Ak, Fd, Fj, Iw dan RR) siap bertualang menikmati rencana liburan kali ini. Kami berangkat pagi – pagi dengan motor sekitar jam 07.45 WITA dan menempuh perjalanan sekitar 3 jam 45 menit. Tujuan kami adalah Lembah Ramma, berada di salah satu tempat yang terkenal sebagai “puncak Bogor”-nya Sulawesi Selatan, Malino. Sebuah daerah di Kabupaten Gowa lalu lembah Ramma itu sendiri merupakan kaki gunung Bawakaraeng. Perjalanan ke Malino sangat menyenangkan apalagi di tahun 2018 ini, di mana kita beraktifitas selama setahun atau lebih di lingkungan perkotaan lalu disuguhkan oleh pemandangan hutan dan pegunungan yang asri nan hijau.

View of Bawakaraeng Mountain from welcome gate of Malino

Tiba di Malino kami beristirahat sejenak di beberapa titik yang terlihat indah sekaligus tak lupa kegiatan berfoto ria yang tidak mungkin kami lewatkan. Tidak lama terlena, kami segera bergegas menuju base camp pendakian Gunung Bawakaraeng karena jadwal pendakian ini sangatlah sempit. Beberapa menit lagi waktu Dhuhur akan masuk dan kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, mempersiapkan sekaligus mengecek kembali barang – barang, berdiskusi masalah teknis pendakian, sholat Dhuhur, dan bismillah, berangkat!

Passing residents farm

Seperti judul dari postingan ini, saya tidak akan menulis semacam review pendakian melainkan bagaimana pengalaman kami semua mencoba bertahan hidup dan kembali dengan selamat. Dimulai dari titik pos 1 pendakian Gunung Bawakaraeng, bagi kalian yang sudah sering mendaki gunung jalur yang kami lewati tidak ada yang unik melainkan persawahan dan kebun warga menjadi gerbang pembuka lalu masuk ke hutan pinus. Karena tujuan kami hanya berada di kaki gunung maka jalur yang dilalui masih landai atau tidak terlalu terjal. Malino ini sangat terkenal dengan hutan pinusnya, dan sepanjang perjalanan menuju pos 2 kami masih ditemani oleh hutan pinus.

Pine trees in starting hiking point of Bawakaraeng Mt.

Singkat cerita, kami dipandu oleh dua teman kami dalam perjalanan kali ini, Ak dan Fj karena mereka berdua sudah pernah beberapa kali ke sana. Namun mereka terakhir kali melakukan perjalanan ke lembah Ramma sekitar 6 – 7 tahun yang lalu.

Pine trees part 2
Start Point!

“Wah suasananya sudah banyak berubah ya, tumbuhan sudah sangat subur dan beberapa jalur pendakian agak sulit untuk dikenali” ucap Ak.

Move move…
More deeply into forest
Small river in 3rd Post

Alhamdulillah kami berhasil berjalan hingga pos 3. Di sepanjang perjalanan tentu kami berpapasan dengan para pendaki lain, dan ada juga beberapa kelompok yang baru melakukan pendakian. Tidak seperti gunung di daratan Jawa, suasana di sini relatif sepi padahal musim liburan. Mungkin pada pulang kampung kali yah karena memang momen liburannya lebaran bukan libur panjang biasa. Dan kisah pun dimulai ketika kami ingin melanjutkan perjalanan dari pos 3 ke pos 4.

We are in the Jungle

Jalur yang seharusnya kami lalui adalah mengikuti aliran sungai, tapi kami dihukum oleh Yang Maha Kuasa karena banyak nya dosa yang kami perbuat selama perjalanan. Ak dan Fj di buat tidak menyadari hal itu, kami malah jalan memotong aliran sungai dan masuk kedalam hutan. Hampir satu jam kami berjalan menyusuri hutan hanya berbekal mengikuti sebuah tali yang terikat pada batang pohon atau ranting,

“Fj berapa lama lagi kita harus berjalan? Kok rasanya tidak ada tanda – tanda sungai pos 4 sama sekali. Malah kita masuk kedalam hutan yang semakin lebat” tanya Iw.

Start to struggle..

Pos 4 ditandai oleh sungai yang lebih besar dibandingkan pos 3.

“Seharusnya kita sudah sampai karena dari pos 3 ke 4 hanya memakan waktu sekitar 45 – 60 menit. Harusnya jalurnya tanjakan lalu landai kan Ak?”, jawab Fj.

“Iya”, Ak menjawab singkat.

“Hmm ada yang aneh, coba jalan sedikit lagi kedepan. Perasaanku mulai tidak enak, kalau masih belum juga dapat sungai pos 4 kemungkinan besar kita tersesat” kata Fj setelah beberapa menit kami terdiam dan terus berjalan maju menyusuri hutan mengikuti “tali panduan”.

“Tali panduan”

Kami sudah mulai gelisah, pembicaraan sudah tidak secair dan banyak bercanda seperti sebelumnya. Kami hanya terus saling bertukar pendapat tentang suasana yang dilalui ini dan topik “tersesat”. Hingga akhirnya singkat cerita kami mendapatkan ujung jalan dari hutan ini. Sebuah pohon besar yang terikat oleh tali panduan berdiri dengan tegaknya dihadapan kami lalu beberapa meter di belakangnya terdapat pagar kawat besi yang seakan mengatakan “Kembalilah, tidak ada jalan lagi di depan sana”. Sayangnya saya tidak sempat lagi foto pohon bersejarah tersebut.

“Fix kita tersesat”, tukas Fj.

Waktu menunjukkan beberapa menit lagi pukul 17.00 WITA. Kami terdiam dan istirahat sejenak mengitari pohon tersebut sembari saling menenangkan diri, dan menguatkan agar tetap tenang dan fokus.

Getting worried

“Setidaknya mari kita makan makanan legenda masa kecil. Makanan ini juga sangat penting karena sumber tenaga”, Iw menyela di tengah – tengah ketegangan.

“Kebetulan jumlahnya pas dan jenisnya berbeda – beda. Silahkan dipilih mana hewan atau warna kesukaan kalian”, lanjut Iw sembari mengeluarkan 6 batang cokelat bermerk L’Agie dengan jenis bungkus yang berbeda – beda.

“Ini ada Singa, Jerapah, Kuda,…”, Iw menunjukkan seluruh cokelatnya kepada kami. Maaf saya lupa apa saja yang dia bawa waktu itu haha.

Apa kamu tahu cokelat itu? Jika iya, fix kita seangkatan generasi haha. Baru pertama kali saya merasakan kondisi seperti ini, dan begitu juga dengan yang lain. Mental kami diuji. Saya sadar disaat seperti ini harus benar – benar bekerja keras menahan ego, mengedepankan musyawarah dan lapang dada, berhati – hati dalam berucap, karena menurutku perilaku yang sepele pun dapat membuat kesalahan yang sangat besar dan akan membahayakan tidak hanya diriku sendiri tapi semuanya.

“Baiklah, saya akan menuju ke arah barat menyusuri pagar ini untuk melihat apakah ada jalan atau bagaimana”, tukas Fj setelah sekitar 15 menit kami beristirahat.

Sekitar 10 menit kemudian Fj kembali dan melaporkan apa yang telah dilihatnya.

“Pagar ini tidak ada putusnya sampai akhirnya saya menemukan jurang di sebelah barat. Tidak ada jalan disana”, kata Fj dengan nada yang biasa saja.

“Oke saya akan berjalan ke arah timur”, jawab Ak kemudian.

“Saya ikut denganmu”, sambung RR.

Sembari menunggu mereka berdua, hari sudah semakin gelap. Mentari terlihat bersiap pamitan dengan penduduk bumi, warnanya perlahan semakin merah membara memancarkan pesonanya tepat dibelakang pagar kawat besi. Pemandangan tersebut sempat membuat kami takjub dan tenang, hingga akhirnya waktu menunjukkan sekitar pukul 17.30 WITA dan mulai terdengar suara aneh yang muncul. Seperti suara sekelompok serangga tapi kami tidak pernah mendengar suara ini sebelumnya. Semakin lama suara tersebut semakin mendekat hingga akhirnya suara tersebut sangat berisik dan rasanya seperti tepat berhenti diatas kepala kami, diatas pohon besar yang kami itari. Kami mencoba mendongak keatas untuk mencari tahu suara apa itu tapi tak menemukan apa – apa.

Hari semakin gelap, RR dan Ak belum juga kembali dari intaian nya. Iw sempat berjalan agak jauh kearah timur sambil memanggil nama mereka berdua. Semakin lama teriakan Iw menghilang meski kami sudah berpesan kalau jangan berpisah terlalu jauh, lalu beberapa saat kemudian mereka kembali.

“Fix kita tersesat, lembah Ramma terlihat jauh diarah timur sekitar 3 bukit dari sini. Kita tidak bisa langsung memotong kearah timur untuk kesana karena ujung dari pagar ini sebuah jurang yang curam. Dibawahnya ada sungai.”, tukas Ak dengan suara orang yang kelelahan.

Kami tertunduk lemas beberapa saat dan duduk kembali dibawah pohon besar tersebut. Cahaya matahari sudah makin tipis, sumber cahaya sudah mulai redup karena waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 18.00 WITA. Kami pun tidak berlarut dalam kesedihan dan ketakutan. Akhirnya kami berdiskusi kembali, berusaha tenang dan akhirnya memutuskan kembali dengan petunjuk “tali” panduan tersebut.

Kami akhirnya kembali dengan tujuan sungai pos 3. Matahari benar – benar terbenam dan rembulan mulai menjalankan tugasnya. Tapi cahayanya tak dapat menembus lebatnya hutan sehingga kami membentuk sebuah formasi “ular” agar semuanya tetap berjalan dengan baik. Headlamp cuma tiga buah, kami memutuskan headlamp nya dipakai oleh orang paling depan, ditengah, dan paling belakang. Sedangkan sisanya menggunakan senter smartphone masing – masing. Saya berada pada posisi kelima.

“Ternyata seperti ini suasana hutan di malam hari”, gumamku dalam hati.

“Baru kali ini saya merasakan malam hari dalam hutan liar. Benar – benar mengerikan. Mungkin karena kita tidak tahu arah kali ya”, isi hatiku terucap.

“Yang saya takutkan, biasanya tali seperti ini dihutan jumlahnya tidak cuma satu melainkan banyak. Itu akan sangat berbahaya karena kita tidak tahu persis tali mana saja yang sudah kita ikuti selama ini”, terang Fj memecah keheningan dalam gelap dan dinginnya malam dalam hutan.

Dan ternyata apa yang dikatakan Fj benar.

“Ah yang benar saja”, timpal Iw sambil memperlihatkan beberapa tali yang terikat di pohon dan ranting berada di arah yang berbeda.

Suasana semakin tidak karuan, kami sudah mulai agak cemas tapi tetap mencoba untuk tenang, mengikuti kesepakatan, dan tidak melakukan hal – hal yang bodoh. Jarak pandang hanya sebatas cahaya dari smartphone ataupun headlamp. Tusukan dan goresan tumbuhan rasanya tidak membuat kami menyerah, kami tetap maju dengan peralatan seadanya, survival ability rise from our body.

Sekitar dua – tiga jam kami menyusuri hutan tapi tidak juga sampai ke sungai pos 3. Beberapa kali kami juga mendengar ada suara aliran sungai tapi tidak bisa menentukan pasti arahnya kemana karena keterbatasan penglihatan. Jika menghadap keatas, terlihat jelas siluet pohon – pohon besar menutupi langit bermandikan cahaya bulan. Kami tidak ingin gegabah melangkah begitu saja karena bisa jadi pijakan kami berikutnya adalah jurang.

“Sekarang sudah jam berapa?”, tanya Fj.

“Jam 20.00 WITA kak”, jawab Fd.

“Kalau menjelang jam 21.00 WITA kita belum berhasil kembali ke pos 3 mari kita cari dataran datar, mendirikan tenda, lalu beristirahat”, tegas Fj.

“Oke”, kami semua menjawab setuju.

Takdir memutuskan kami beristirahat di tengah hutan malam itu. Kami menemukan sebuah area dimana tanahnya tidak terlalu datar, mungkin miring sekitar 5-10 derajat, tapi agak luas. Cukup untuk mendirikan dua tenda. Tidak ada peralatan untuk membuat api, suasana malam itu juga sangat lembab dan dingin. Tentu saja karena kami berada dalam hutan hujan. Suara angin malam terdengar dengan jelas bagaikan suara kendaraan di perkotaan, pun suara para makhluk hidup penghuni hutan lainnya. Kami berharap tidak ada hewan buas atau babi hutan malam itu.

Kami mendirikan sholat maghrib dan isya dengan cara di jamak, lalu membuka ransum yang sejatinya kami ingin nikmati dalam keadaan yang menyenangkan. Tidak lama mengobrol kami pun masuk ke tenda masing – masing. Saya bersama Fj karena tendanya hanya muat untuk dua orang. Yang lainnya berada di tenda Ak karena memang ukurannya untuk empat orang.

Disela – sela obrolan kami dengan penghuni tenda, kami sempat berdiskusi bagaimana rencana selanjutnya dari dalam tenda masing – masing. Suhu diluar semakin dingin dan rasanya sudah tidak aman lagi berlama – lama berada diluar tenda.

“Ik, Fj, kalian belum tidur?”, panggil Iw.

“Belum”, jawabku.

“Setelah berdiskusi, saya punya rencana apa yang akan kita lakukan untuk besok, bagaimana?”, lanjut Iw.

“Bagus. Kami juga punya beberapa rencana. Besok saja kita lanjutkan. Mari tidur dulu agar tenaga kita pulih kembali”, jawab Fj.

Sekitar satu jam saya dan Fj tidak bisa tidur karena kami tetap melanjutkan obrolan kecil. Entah itu perbincangan tentang perjalanan ini ataupun hanya sekedar candaan untuk menenangkan hati. Sekitar pukul 23.00 WITA akhirnya sayapun tertidur. Tidak lama kemudian, saya terbangun dan ternyata Fj juga.

“Kok rasanya kakiku agak lembab / basah gitu?”, tanyaku membuka percakapan.

“Iya, tadi diluar lagi hujan”, jawab Fj.

Untungnya selain sleeping bag, saya mengenakan jaket bulu musim dingin punya adik yang dia beli khusus untuk kunjungan studi ke Korea – Jepang waktu itu. Ketebalan dan hangatnya membuatku nyaman juga sedikit tidak peka dengan sekitar. Saya akhirnya tersadar dan mendengar rintikan hujan dimalam itu. Tidak lama kemudian terdengar suara gerak gerik penghuni tenda sebelah, tapi kami memutuskan untuk tidak bertanya. Sayapun akhirnya tertidur kembali, dan ternyata jika merujuk pada kalender matahari, hari sudah berganti.

19 Juni 2018

Inside the Jungle

Fj membangunkanku. Waktu menunjukkan sekitar pukul 05.00 WITA. Saya dan Fj melaksanakan sholat shubuh didalam tenda, lalu akhirnya kami semua keluar dari tenda sekitar pukul 06.15 WITA. Sebelum berdiskusi, kami sarapan beberapa snack dan menampung tetesan air hujan untuk minum. Tanpa sadar ternyata persediaan air minum sudah menipis.

“Oke jadi begini rencananya”, Iw memulai diskusi pertama hari itu.

Sekitar 30-45 menit kami musyawarah, akhirnya diputuskan bahwa

  1. Tujuan berganti menjadi bertahan hidup dan mencari jalan keluar tidak peduli akan keluar dimana.
  2. Perjalanan hari ini dimulai dengan mencari sungai dan mengisi air terlebih dahulu. Batas yang ditentukan hingga siang hari.
  3. Jika berhasil mendapatkan sungai, maka kami akan berdiskusi kembali bagaimana mencari jalan keluar setelahnya.
  4. Jika tidak, tidak ada rencana B dan seterusnya. Tetap kembali ke rencana awal.
Mentally devastating scenery

“Oke, sebelum kita memulai perjalanan kita hari ini sepatutnya kita berdoa kepada Allah, memohon ampun atas dosa – dosa yang kita lakukan selama perjalanan karena kemungkinan besar kita diberikan ujian ini karena dosa tersebut dan tentunya petunjuk juga kekuatan untuk keluar dari hutan ini”, sebut RR sebelum akhirnya kami memulai perjalanan hari itu.

“Doa dimulai”, lanjutnya.

Dengan harapan dan semangat yang masih lebih besar dibandingkan rasa khawatir dan takut, kami pun berangkat setelah berdoa. Suasana hutan masih sangat dingin, hujan masih gerimis sehingga memaksa kami menggunakan jas hujan. Udara yang sangat segar membantu perasaan kami agak tenang. Dalam musyawarah tadi, kami mempertimbangkan pernyataan Ak bahwa semalam smartphone nya bisa menunjukkan peta dan menunjukkan dimana posisi kami berada. Tapi ternyata peta tersebut tidak berfungsi sehingga kami akhirnya menggunakan insting, seluruh panca indera, dan tentunya doa.

Finally, using raincoat

Sekira pukul 09.30 WITA kami mendengar suara sungai. Tak lupa selama perjalanan kami memutuskan ranting atau membuat tanda lainnya yang bisa kami kenali bahwa jalur tersebut sudah pernah dilewati. Dan alhamdulillah persis pukul 10.00 WITA kami melihat sungai tersebut jauh dibawah tempat kami berjalan. Hujan sudah berhenti, cahaya matahari tidak berhasil menembus hutan tapi pandangan kami jelas. Kami pun bergegas turun meski jalannya agak licin dan becek.

First goal!

Sampai di sungai, kami tidak membuang – buang waktu. Mengisi air, makan, membersihkan badan, dll. Kami bersyukur bisa mendapatkan sungai tidak terlalu lama. Airnya sangat bersih dan dingin, rasanya jauh lebih segar mengalahkan air kemasan yang notabene mengatakan berasal dari sumber mata air pegunungan.

Clean up body and face

Sekitar satu jam kami berbenah, lalu kemudian kami berdiskusi kembali. Ada dua pendapat yang muncul, kita menyusuri sungai hingga sampai ke hilir atau pedesaan, ataukah kedua kita mengikuti kompas. Syukurnya Iw memiliki pengetahuan tentang geografi lebih baik dari kami semua, mampu membaca arah berdasarkan alam seperti posisi bintang dan matahari. Awalnya kami sepakat untuk memilih opsi pertama tapi Iw merasa sebaiknya kita mengikuti arah, akhirnya kami mengikuti saran Iw. Ditengah perjalanan kami tidak berhenti berfikir dan disela – sela istirahat,

Food..

“Kalau mau mengikuti arah, biasanya di peta pendakian ada tertulis garis lintang dan bujur untuk posisi base camp atau pos – pos lainnya”, tukas Fj.

“Ik adakah foto yang didepan batu peta pendakian kemarin?”, tanya Iw padaku.

“Tunggu”, saya pun membuka HP dan mencari fotonya.

“Iya ini ada”, sesaat kemudian sambil menyodorkan HP ku memperlihatkan fotonya.

Dia memperbesar gambarnya dan,

“Wah difoto ini jelas tulisan garis lintang dan bujurnya!”, jawabnya semangat.

“Ah sial, sayangnya di peta ini menggunakan garis lintang dan bujur dengan format yang berbeda dari google map”, lanjutnya.

“Ik, tau cara konversi titik koordinat dari format A ke format B?”, tanya Iw padaku.

“Umm, tidak”, jawabku singkat.

“Tunggu kalau begitu, akan kucoba – coba ingat”, balasnya lagi.

“Kita harus menuju ke arah utara, sebelah sana”, tiba – tiba Iw berkata seperti itu setelah menghitung semuanya sembari menunjuk ke arah yang dia maksud.

Kamipun melanjutkan perjalanan, dan tentu saja jalur yang dilewati adalah hutan belantara. Bukan jalur yang pernah dilewati manusia. Jalurnya semakin berat, tanjakan semakin terjal, tumbuhan yang menghadang semakin lebat dan berduri sampai – sampai jaket pun ditembusnya. Berbekal kompas milik RR, Iw menunjukkan arah jalan, Fj berada di posisi paling depan membuka jalan karena dia punya tongkat mendaki dan pisau kecil serbaguna punya Iw. Tiba – tiba Fj berhenti sejenak dan dia terdiam.

“Oit, kenapa berhenti?”, tanya Iw dan ditanyakan kembali oleh yang lainnya.

“Kita cari jalan memutar, jangan lewat sini”, jawab Fj datar.

“Hah? Kita harus ke arah sana”, tukas Iw.

“Ada laba – laba di depan sana”, jawab Fj lagi.

Kami pun tertawa karena tau kalau Fj takut dengan laba – laba. Selama perjalanan di hari kedua ini, RR sering berteriak “Tolooong..” walaupun kami sudah mengingatkannya kalau itu hal yang sia – sia dan membuang tenaga. Akhirnya menjelang jam 12.00 WITA, saya bisa melihat puncak dari bukit yang sedang kami jalani.

“Apakah berada di posisi yang sangat tinggi, kami bisa mendapatkan sinyal hp?”, gumamku dalam hati.

Near to the top

“Wah lihat ada batu besar diatas sana. Sepertinya itu adalah puncak dari bukit ini”, lagi – lagi isi kepalaku terlontarkan memecah keheningan tapi kali ini entah kenapa, sadar atau tidak yang keluar dari ucapanku telah ku modifikasi.

“Wah betul. Ayo keatas sana”, jawab Ak.

“Dari atas kita bisa melihat dan observasi daerah ini lebih mudah. Siapatau kita bisa menemukan petunjuk”, lanjut Iw.

Jalan menuju batu tersebut jauh lebih berat. Tumbuhan yang kami hadapi sungguh keras, terlihat seperti ranting tapi sangat sulit untuk ditundukkan / dipatahkan. Jalur yang licin juga menambah tingkat kesulitan. Akhirnya sekitar 30 menit kemudian kami berhasil mencapai batu itu. Lalu,

“Coba hp nya dihidupkan sinyalnya” (airplane mode dinonaktifkan) tukasku secara tiba – tiba setelah hampir sampai diatas batu.

Discuss on the top

“Waah ada sinyaaal!”, teriak Ak mengagetkan kami dengan nada gembira dan tergesa – gesa.

“Alhamdulillah”, jawab kami.

Beberapa menit kemudian, hp nya berdering, ada yang menghubungi Ak.

“Iya halo, iya kami lagi tersesat. Tolong hubungi tim SAR segera”, jawabnya setelah mengangkat telepon dari calon istrinya dengan tergesa – gesa.

“Woi jangan dulu minta hubungi tim SAR”, jawab kami serentak.

Tidak semua segera menonaktifkan mode pesawat karena untuk berjaga harus ada beberapa hp yang masih bisa digunakan jika ternyata kami masih berada dalam hutan lebih lama lagi. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi telepon lagi, tapi kali ini punya Iw.

“Halo”, jawabnya dengan nada serius.

“Halo, ini siapa ya?”, lanjutnya.

“Kenapa kamu menelepon disaat seperti ini?”, jawabnya lagi masih dengan nada serius.

Kamipun tertawa dan penasaran sebenarnya siapa yang menelpon. Ternyata Dn, teman yang rumahnya kami jadikan meeting point sebelum berangkat ke Malino.

Fireflies

“Oke, tolong nanti kalau sampai jam 18.00 WITA belum ada kabar dari kami, barulah kamu hubungi tim SAR segera. Setelah ini saya akan kirimkan koordinat lokasi kami diatas batu ini dan lokasi yang hendak kami tuju sebagai informasi yang akan kamu berikan saat menghubungi tim SAR.”, jelas Iw sebelum akhirnya memutuskan pembicaraan.

Iw pun mengunduh beberapa area dimana kami berada saat ini dari google maps agar bisa digunakan secara offline, memecahkan koordinat dari foto peta pendakian dari hp ku lalu semua hal itu menjadi penunjuk jalan kami. Tidak menunggu lama setelah beristirahat sejenak kami pun melanjutkan perjalanan. Ketika berada diatas batu kami sempat melihat area sekitar, kebetulan RR membawa teropong dan kami menemukan ada beberapa titik yang terlihat mencolok sangat terang. Kami pikir itu sungai tapi ternyata sesuatu yang lain (akan terjawab pada akhir kisah ini).

Formasi kami masih tidak jauh berbeda dari sebelumnya, beberapa kali Fj dan Ak bertukar posisi paling depan untuk membuka jalan, Iw sebagai pengarah jalur yang akan kami lewati. Namun kali ini perjalanan semakin sulit, kami harus turun dari bukit, paparan terik matahari selama kami berada diatas batu tadi sempat membuat cadangan air menipis, dan yang paling sulit adalah banyaknya jurang yang harus kami putari. Teringat ada dua jurang yang kami lewati dan salah satunya kami harus menyeberanginya dengan batang pohon raksasa yang terjatuh. Bahkan Ak sempat terjatuh sampai tubuhnya tak terlihat. Seketika kami shock dan panik karena dibawah kami adalah jurang.

“Aah, tolong saya tidak bisa bernafas”, teriak Ak setelah terjatuh.

They’re though

Alhamdulillah dia masih selamat karena rawa – rawa yang kami injak sangatlah kuat, tidak putus meski diinjak sekalipun. Dengan adanya sedikit petunjuk, harapan itu terus membakar semangat kami, rasa lelah dan luka – luka yang kami dapatkan seperti tidak berasa. RR kembali tidak berhenti berteriak minta tolong hingga akhirnya setelah sekitar satu setengah jam kami berjalan teriakan RR membuahkan hasil!

Terdengar gonggongan anjing dari kejauhan, kamipun saling bertatap dan raut wajah kami berubah menjadi ceria.

Farm!

“Ada anjing! Alhamdulillah kita selamat! Tidak mungkin ada anjing di dalam hutan, kita pasti sudah dekat dengan desa atau rumah seseorang!”, teriak Fj.

Diapun berlari dan dengan cepat kami semua sepakat untuk mengganti rencana agar berhasil pergi ke desa dimana suara anjing tersebut terdengar. Kamipun berlari mengikut dibelakangnya. RR dan Fd terus berteriak agar anjing tersebut tetap menggonggong karena suaranya menjadi petunjuk terbesar kami untuk keluar dari hutan ini. Hingga akhirnya kami menemukan jalur yang sepertinya dibuat oleh manusia. Beberapa batang pohon terpotong karena alat seperti parang, jalur setapak yang teratur, dan dari kejauhan kami berhasil melihat anjing beserta anak kecil.

Pointed at…

Akhirnya kami selamat. Lumayan jauh juga kami harus turun sampai melihat kebun petani pemilik anjing yang menggonggong itu. Sekitar satu jam kami berlarian mencari suara anjing itu.

Daeng Salang’s house

Ternyata kilauan seperti cahaya yang kami lihat melalui teropong ketika diatas batu tadi adalah atap seng rumah dari petani di gunung ini. Kami dijamu dengan baik oleh petani ini, namanya Daeng Salang. Selain membersihkan diri, kami meminta izin untuk melaksanakan sholat (Dhuhur dan Ashar). Bahkan Daeng Salang menjamu kami makan berat (nasi dan lauk ikan), kopi hitam, dan cemilan. Dia bertanya kami darimana dan kami pun menjelaskan bahwa kami ingin pergi ke lembah Ramma dan tersesat.

Country above the clouds

Dari obrolan kami, Daeng Salang mengatakan lembah Ramma jauh ke barat, mungkin harus dilalui sekitar sepuluh bukit dari kebunnya. Alhamdulillah, kami sangat bersyukur masih diberi kesempatan kembali dengan selamat. Liburan kali ini benar – benar luar biasa, semuanya baru pertama kali merasakan momen seperti ini dalam hidup dan tentu kami berharap tidak pernah merasakannya lagi. Kuakui sempat ada rasa takut bahwa hidup akan berakhir disini dan yang lainnya pun begitu. Disisi lain ini menjadi pelajaran bagi kami agar bertobat dari sesuatu yang buruk.

Sekian. Semoga dari pengalaman ini kamu, para pembaca, bisa mengambil pelajaran.

Send text message, "Our journey end, we survive"
Send text message, “Our journey end, we survive”