22 Januari, 2021

Privasi di dunia digital. Pedulikah kamu?

TL;DR Era digital membuat data bisa lebih mahal dari minyak dan emas. Sayangnya, tidak jarang manusia adalah produknya.

Belakangan ini masyarakat ramai membahas masalah kebijakan terbaru dari aplikasi perpesanan populer berwarna hijau. Saya cukup kaget karena ternyata topik yang dibahas adalah kebijakannya. Semoga ini menjadi awal yang baik agar masyarakat melek terhadap masalah privasi era digital. Thanks to blue company.
Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit tentang pandangan saya terhadap hal ini biar tulisan ini makin mudah kamu pahami. Dilewati juga tidak mengapa sih haha. Dimulai dari membaca berita kriminal di USA, bahwa pihak kepolisian salah menangkap pelaku dikarenakan foto pelaku “palsu” tersebut dimanfaatkan oleh pelaku yang sebenarnya. Sontak hal itu membuat saya kaget dan saat itu yang langsung terfikirkan adalah betapa ngerinya kalau data pribadi kita tersimpan apalagi tersebar di dunia digital!

Timeskip…

Ketika telepon genggam berevolusi “lebih pintar” dan menjadi kebutuhan primer (setidaknya untuk sebagian kalangan), maka hal itu berbanding lurus dengan transisi berbagai macam persoalan dalam hidup kita. Mulai dari lifestyle sampai produktifitas. Secara khusus dalam tulisan ini saya akan membahas dari salah satu sisi produktifitas, yaitu marketing.

Biar lebih gampang, mari kita mulai dengan pertanyaan ini.Apakah kamu termasuk pengusaha yang sadar akan kebutuhan digitalisasi pada usahamu? Kalau iya, tentu kamu mempelajari bagaimana beriklan digital bukan? Lalu bagaimana cara membuat iklan yang maksimal? Sayangnya itu tidak akan saya bahas, lagipula mungkin anda lebih tahu tentang hal itu haha.

Itulah awal dari penyimpangan moral dan etika. Terdengar sangat klise dan terlalu berat, ditambah lagi tidak ada standarisasi kalau kita mau membahasnya karena hal itu sangat relatif tergantung dari cara pandang, perspektif, dan pemikiran masing – masing. Setidaknya, ada satu hal yang bisa kita sepakati bahwa kita harus menghormati privasi setiap orang.

Apasih yang dipermasalahkan?

Sampai saat ini salah satu hal yang membuat kita merasa nyaman memakai berbagai produk digital (aplikasi) adalah karena gratis. Yeah don’t get me wrong. I love freebies! Tapi pernahkah kamu berfikir darimana perusahaan pembuat produk tersebut mendapatkan penghasilan kalau diberikan gratis?

“Banyak! Membeli fitur khusus atau item premium dalam aplikasi”.

Ya, benar. Itu hal yang wajar, bisa diterima, dan yang terpenting tidak membuat kegaduhan. Everyone happy with that kind of business. Faktanya masih ada cara lain yang tidak semua orang bisa terima dan inti dari tulisan ini.

Menjual data penggunanya.

“Data apasih yang dijual? Toh saya baik – baik saja dan tidak merasa dirugikan.”

Pemahaman seperti inilah yang masih banyak bergelayut di masyarakat. Sebagian besar yang sadar mengenai hal ini biasanya hanya kelompok tertentu seperti para pengembang aplikasi dan pebisnis. Mereka tahu seluk beluk tentang “bagaimana perusahaan menggunakan data penggunanya”. Okelah, memang saya akui kalau sampai sekarang tidak ada hal yang terasa merugikan. Sekarang adalah era dimana data adalah segalanya.

Menurutku tidak berlebih kalau bilang data bahkan bisa lebih mahal daripada minyak dan emas. Kalau kamu punya data, keuntungan materiil (duit) tidak seberapa. Usaha minyak dan emas juga menghasilkan duit yang banyak bukan? Tapi dengan data, it’s far beyond that. Bagaimana kalau saya bilang, kamu bisa menguasai dunia? Kamu bisa mengendalikan perilaku masyarakat biar sesuai dengan keinginan kamu.

Let’s dream for a moment. Misal nih kamu punya usaha kuliner, usaha hotel, usaha penerbangan, usaha pariwisata. Terus kamu punya data masyarakat dalam suatu daerah mulai dari umur, relasi, hobi, berbagai perilaku sampai pada hal yang biasa dibahas pada sebuah grup percakapan. Apa sudah terbayang dengan data itu apa yang bisa kamu lakukan dengan berbagai usahamu?

Mari kembali dengan aplikasi perpesanan berwarna “hijau”. Sekarang penggeraknya adalah perusahaan biru yang kita kenal sebagai sosial media. Kamu pasti sudah tahu seberapa besar media sosial itu. Lalu kebijakan barunya akan menghubungkan data sosial media itu dengan aplikasi perpesanan. Pikirkan tentang data! Sekarang aja kalau kamu bermain sosial media itu, berapa banyak iklan yang bertebaran? Apa kamu kepikiran, kok iklan – iklannya related dengan keadaan kamu? Itu karena perusahaan tersebut sebisa mungkin mengumpulkan data privasi kita! Bayangkan kalau data yang jauh lebih personal seperti percakapan (meskipun ini saya sendiri masih belum yakin) dan relasi kita di aplikasi perpesanan juga dikumpulkan.

“Hah?! Bagaimana caranya?”

Pin on the map. Source

Dalam aplikasi itu, mereka menanamkan “mata – mata” yang terus mengintai gerakan kita. Misal kata kunci yang kita tuliskan pada kolom pencarian dan halaman profil orang atau barang yang kita kunjungi. Dari dua hal itu saja kamu sudah menjadi “target” iklan bukan?

Memang ada yang mengatakan bahwa hal itu untuk meningkatkan experience kita, memudahkan kita dalam menggunakan aplikasinya. Saya sendiri yang berprofesi sebagai pengembang aplikasi mengakui membutuhkan data itu. Namun yang menjadi masalah, data itu tidak seharusnya dikumpulkan secara paksa dari penggunanya!

Pemberitahuan kebijakan baru pada aplikasi hijau itu adalah contoh nyata. Kalau kita tidak izinkan atau tidak setuju, kita ngga akan bisa pakai aplikasinya lagi. Bukankah itu pemaksaan?

Lalu, apa efeknya?

Bagian ini sangat relatif, tergantung dari pandangan masing – masing. Sudah saya sebutkan salah satu contohnya, kita akan menjadi “target” iklan. Sebagian orang tidak menganggap ini masalah besar, tapi ada juga yang merasa terganggu bahkan tidak suka. Dulu kita sering melihat para sales menjajakan produk mendatangi calon pembeli. Sekarang dengan adanya data, salah satu beban para marketer digital berkurang yaitu tidak terlalu memikirkan target iklan mereka kemana. Mereka lebih fokus kepada konten iklannya seperti apa. Bahkan “berkah” beriklan seperti ini bisa dilakukan secara individu dengan adanya fitur iklan berbayar, yaa… salah satunya yang ditawarkan oleh sosial media biru bukan?!

Makanya jangan kaget kalau berbagai produk digital “tahu” apa keinginan kamu atau seperti cenayang yang bisa membaca kondisimu. Tidak ada yang namanya magic dalam dunia digital. Semuanya terukur dan logis. Tidak ada data, berarti tidak ada strategi yang maksimal.

Oke, sebelum mengakhiri tulisan ini mari kita lihat secara singkat sisi lain efek dari isu privasi data ini. Mungkin agak membosankan kalau dari tadi cuma membahas sisi marketing. Tapi ngga bisa dipungkiri kalau hampir segala sesuatunya sekarang itu berakhir untuk duit. Mohon dicatat beberapa poin dibawah adalah analisa berdasarkan asumsi dan pengalaman pribadi saya hahaha, yang mana seberapa besar pengaruhnya kembali kepada pengendalian diri kita masing – masing.

Pertama, adanya kemungkinan degradasi kualitas hidup dan pengaruh psikologis tanpa disadari. Pernah merasakan ketika pengen rehat sejenak dengan buka platform video terbesar warna merah tapi kenyataannya sampai diingatkan sendiri ama aplikasinya karena sudah kelamaan nonton? Aplikasi itu “mempelajari” kebiasaan kamu suka nonton apa dan ngasih video rekomendasi yang sepertinya kita juga suka. Atau pernah mengalami momen berniat berhemat dalam satu bulan tapi ternyata kebablasan belanja? Hahah, saya sendiri pernah!

Saya tidak mengatakan penggunaan data seperti ini adalah hal yang negatif, bahkan kalau saya berbicara dari sisi keilmuan dan sains, hal itu merupakan suatu kemajuan yang luar biasa. Saya sendiri juga tidak sedikit mendapatkan manfaat dari situ.

Kedua, kerugian materiil (bahkan lebih) dari kebocoran data. Sekali data kita tersimpan di dunia digital, saya akan bilang data itu hampir tidak akan bisa kita hilangkan. Kita akan kehilangan kontrol. Persentase terjadinya kerugian ini kecil karena faktor terbesarnya adalah tingkat keamanan platform yang menyimpan data kita, apakah ada penjahatnya, dan apakah dari jutaan data ternyata kita yang jadi korban. Tapi tetap saja bisa terjadi kan?

Ketiga, hilangnya kebebasan berekspresi di dunia digital dan penyalahgunaan data oleh siapa yang berkuasa. Suka atau tidak suka yang berkuasa bisa mengendalikan yang tidak berdaya.

Terakhir, bagaimana perasaanmu kalau sampai nomor sepatu saja diketahui oleh orang banyak? Kejauhan kali ya, gini aja deh. Bagaimana kalau data tentang tempat – tempat yang kamu kunjungi selama sepekan terakhir diketahui oleh pihak tertentu?

Setelah ini, bagiamana?

Saya berharap kedepannya masyarakat tidak menutup mata dan menganggap sepele terhadap isu ini. Karena sejatinya bagaimana bentuk masa depan kita tidak terlepas dari pengaruh perilaku society.

Apakah dengan kemajuan teknologi menjadi “pembantu” dalam memudahkan urusan hidup kita? Atau malah digunakan oleh segelintir orang hanya untuk kepentingan mereka dan mengendalikan yang lain?

Mudah – mudahan setelah kamu membaca tulisan ini, kamu bisa mulai lebih cermat menjalani hidup di era digital, sayang dan peduli terhadap dirimu sendiri. Let me say this,

Kita sendirilah yang menentukan kendali terhadap hidup kita.

Stay safe teman – teman! Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah ﷻ


Featured image by Matthew Henry (unsplash)