15 Juli, 2019

Almost 3 years review: Macbook Pro Late 2016

TL;DR – This verdict based on my usage of first ever Apple product for almost 3 years as developer and personal use. This generation of MacBook Pro (late 2016 – 2019) doesn’t worth for the money in general terms. At same price range you can get laptop with better specs and performance. But there one thing why you want and need to get this laptop, if you need macOS / the best software and tech ecosystem that “just works almost perfectly and beautifully” then no one can match this -at least until I’m writing this post.

Kelemahan dari penilaian secara umum

Banyak, dan berikut penjabarannya dimulai dari yang paling parah. Pertama, layar yang dapat dipastikan akan rusak. Ya, kamu ngga salah baca. Dengan desain yang lebih tipis dan ringan dibanding versi sebelumnya (MacBook Pro Retina 2012 – 2015), kabel flex pada LCD nya sangat tipis dan pendek sehingga mudah robek disebabkan oleh penggunaan laptop seiring berjalannya waktu. Semakin sering kamu buka tutup laptopnya, maka semakin cepat penyakit ini akan muncul.

Can you see that looks like “stage light” effect?

Kedua, awkward keyboard. Untuk mencapai tujuan desain yang lebih tipis dan ringan (desain lagi?) Apple menggunakan keyboard dengan mekanisme kupu – kupu (baca disini). Tingkat konsistensi jika kamu menekannya luar biasa yakni meski kamu menekan di sudut tombol maka akan tertekan dengan baik. Tapi tidak untuk kamu pengguna shortcut atau penulis dengan kecepatan ngetik tingkat dewa, maka kamu akan kesal dengan desain keyboard ini. Kedalaman ketuk nya sangat rendah, feedback nya yang kaku dan agak aneh sehingga untuk penggunaan dalam waktu yang lama sangatlah kurang nyaman. Yang lebih penting lagi, keyboardnya ini sangatlah mungkin untuk rusak! Ya, sekali lagi kamu tidak salah baca. Untuk model yang rilis tahun 2016-2017 (sebagian mengaku versi 2018 juga) jika keyboardnya kemasukan debu atau kotoran maka akan terasa lengket atau susah ditekan, kadang harus ditekan berkali – kali, atau sebaliknya tertekan sebanyak yang tidak semestinya. Untungnya Apple menyediakan program perbaikan gratis untuk masalah keyboard dan layar LCD nya.

They’re looks really good but…

Ketiga, performa. Dengan desain yang tipis dan ringan (design again, seriously?!) laptop ini menyerah untuk bisa mengeluarkan performa terbaik dari hardwarenya karena penanganan panas yang tidak optimal. Bahkan saya sendiri alasan utamanya memilih laptop ini selain karena OS nya adalah portabilitas. Tapi sayang, setelah dicoba berkali – kali dibawa travel + kerja bareng panasnya tidak tertolong. Body metalnya membantu distribusi panas keatas keyboard, apalagi ingin diletakkan diatas paha? Ditambah jika aliran udara ruangan yang kurang baik / suhu sekitar hangat. Ahh, it’s frustrating that I need to use this laptop in cooled room.

Keempat, hanya port USB Tipe C. Sebenarnya di tahun 2019, poin ini sudah tidak terlalu relevan lagi karena konverter atau perangkat USB Tipe C sudah banyak bertebaran. Tapi setidaknya, saya masih menggunakan keseluruhan port nya untuk charge, monitor, HDD dock, dan dongle USB Tipe A 🤪. Meskipun sebenarnya kamu bisa membeli dongle yang langsung punya banyak jenis port, okay it’s fine and you think it’ll resolve the problem.

Kelima, price-per-performance. Kebetulan saya bukanlah sultan atau anak sultan jadi parameter harga sangatlah penting. Dengan base model seharga motor matic sebenarnya laptop ini masih kurang worth. Karena desainnya yang tipis (aargh!!) Apple terpaksa memilih menggunakan hardware yang “pas-pasan yang dipaksakan” seperti prosesor dan memori yang satu generasi lebih tua pada saat itu (tahun 2016). Mereka mengambil jalan yang aman karena jika menggunakan hardware terbaru, maka tantangan terbesarnya adalah panas yang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Kecuali kamu rela membayar demi sebuah prestige dari sebuah brand, it’s fine. Everyone have their reason to choose and own something. Maafkan untuk poin kelima ini jika terlalu subjektif karena saya pribadi orang yang secara teknis sedikit tahu tentang IT.

Thinner than 2nd Hyouka novel

Kelemahan dari sisi saya sebagai developer dan hobi (content creation)

I need to press “esc” key frequently! Damn it, Apple why you turn “esc” into virtual key!? Dengan disematkannya tombol tersebut pada TouchBar, menekannya sangatlah tidak nyaman. Lalu tentu saja penggunaan keyboard yang kurang enak, secara profesi saya sebagai developer sangat bergantung banyak pada ergonomis dan kenyamanan penggunaan keyboard.

Can you spot the holy “esc” key?

Ketahanan baterai yang biasa saja atau bahkan tergolong lemah. Lagi – lagi karena desain, ya karena desain! Kapasitas baterainya jadi tidak terlalu besar karena keterbatasan bentuk fisiknya yg tipis. Kebutuhan penggunaan aplikasi bagi para developer jaman sekarang sangatlah rakus (I look at you Chromium, VSCode), tapi lumayan agak tertolong karena macOS sangatlah efisien. Harga yang tidak sepadan dengan performa. Penyimpanan sebesar 256GB dan RAM 8GB sudah sangat pas-pasan dipakai untuk web developer, desain grafis, apalagi editing video.

Nice and meh.

Touch ID atau simpel nya tombol power + sidik jari. Tidak hanya berfungsi untuk menghidupkan (dan mematikan secara paksa jikalau hang!) fitur sidik jari ini juga bisa dipakai untuk autentikasi layanan Apple Pay, dan password less input berupa unlock laptop, instal aplikasi di App Store atau autofill pada Safari. Perbedaan sekaligus kelebihan touch ID ini dibanding fitur serupa pada kompetitor lainnya adalah Apple menggunakan chip tersendiri untuk menangani sistem keamanannya.

Apple’s proprietary T1 & T2 security chips handle this Touch ID

Touchbar. Apple tidak mengambil jalan menyematkan layar sentuh pada jajaran laptopnya dan menyebut ini adalah fitur revolusioner pada laptop. Sebuah deret layar sentuh kecil yang menggantikan tombol “fn”. Layar ini bisa berubah – ubah sesuai dengan aplikasi yang sedang aktif dan tombol pengganti “fn” seperti mengubah kecerahan layar atau pengaturan volume. Jujur saja di beberapa aplikasi saya sangat terbantu dengan touchbar ini seperti pada browser Safari, Brave, aplikasi manajemen file (Finder). Sayang Touchbar ini bergantung pada developer tiap aplikasi apakah mereka akan memanfaatkannya atau tidak, lalu bagaimana implementasinya. Karena sebagian besar aplikasi yang menggunakan fitur pada touchbar ini tidak terlalu sering saya gunakan.

Kelebihan

Kualitas speaker diluar dugaan! Bahkan speaker 2 channel (tanpa bass / subwoofer) seharga 400-500ribuan pun masih kewalahan. Terbaik sampai saat ini. Kalau ngga percaya, kamu bisa riset di internet atau review orang – orang 😄

Desain atraktif dan build quality yang luar biasa. Bahkan menurutku sebagai orang yang sangat menyukai desain dan keindahan (halah) desain dari MBP ini masih termasuk yang terbaik dibanding kompetitor lainnya. Material nya benar – benar high class, sudah hampir tiga tahun digunakan tapi MBP ini tidak terlihat bulukan sebagai laptop yang berusia tiga tahun.

What is this?

Meski resolusi tidak sehebat laptop lainnya (glorious 4K), kualitas layarnya top-notch! Kecerahan sampai 500nits, gamut warna yang didukung sangatlah luas (DCI P3) meskipun saya masih belum tau akurasinya bagaimana. Eh iya, “Retina Display” hanyalah kata – kata marketing dimana Steve Jobs mengatakan layar tersebut terlihat indah dan tajam layaknya membaca buku atau koran. Sedangkan dalam sains adalah rasio kepadatan antara resolusi dan ukuran layar yang mana jika dilihat mata dan direpresentasikan oleh otak manusia seperti maksud dari kata – kata marketing sebelumnya.

Trackpad ajaib. Sebagai pengguna MacBook Pro untuk pertama kali, trackpad dari laptop Apple ini paling nyaman, bahkan kadang lebih nyaman dari mouse di beberapa momen. Fitur force touch nya itu loh, material kaca yang super halus, tracking, respon, dan akurasi trackpadnya tak tertandingi. Silahkan coba sendiri di booth Apple di mall dekat tempat tinggalmu hehe.

Magic and massive!

Thunderbolt 3 dan USB Gen 3.1. Sayang implementasi Thunderbolt 3 dan perangkatnya tidak banyak tersedia di Indonesia. Kalaupun ada, harganya langit. Selamat bagi kalian yang hidup dan memakai laptop ini di Amerika.

Terakhir sebagai penutup dari review ini, kelebihan dimana membuatku memilih laptop ini adalah softwarenya, macOS. Sistem operasi besutan Apple ini sejak dulu membuatku tertarik, rasanya ada “magis” yang turut serta dalam pengembangannya. Meski belakangan setelah kepergian Steve Jobs perkembangan macOS katanya tidak superior dan inovatif seperti dulu lagi. Tapi bagiku yang menggunakan macOS pertama kali pada versi 10.12 benar – benar kagum. Betapa tidak, dengan hardware yang “terbatas” performa laptop ini tetap terasa memuaskan secara umum. Optimalisasi software dan hardware nya bukan isapan jempol belaka.

Meski begitu macOS tetaplah tidak sempurna. Banyak hal yang sistem operasi ini masih tertinggal dibandingkan Microsoft Windows atau Linux, mungkin karena itulah alasan terbesar kita para pengguna komputer menjatuhkan pilihan. Windows tak tertandingi untuk gim dan belakangan ini Linux juga sudah tidak bisa dianggap remeh lagi untuk bermain gim, Linux superior untuk server dan penggunaan komputasi sederhana seperti office, membaca dokumen, browsing pada komputer spesifikasi rendah, juga developer. Sedangkan macOS lebih banyak dipilih para content creator karena lumayan banyaknya aplikasi professional ekslusif hanya untuk macOS, juga untuk para developer. Secara macOS sendiri berbasis BSD / Unix sehingga beberapa hal tidak jauh berbeda dengan Linux.

Saya pribadi yang menggunakan laptop ini dengan keperluan utama untuk develop aplikasi sangatlah puas dengan apa yang diberikan oleh produk Apple satu ini. Performa yang sampai sekarang masih bisa diandalkan, tools yang sangat lengkap. Berikut tools dan workflow yang sering saya gunakan sebagai developer maupun hobi

  • iTerm + zsh untuk terminal
  • VSCodium, Sublime Text 3 untuk code editor
  • Brave
  • GitHub desktop
  • Paw / Insomnia
  • Final Cut Pro X
  • Adobe Photoshop & Illustrator
  • Capture One Pro
  • Messaging apps (WhatsApp, Line, Telegram)

Saya sendiri kadang heran hanya dengan spesifikasi RAM 8GB, prosesor Core i5 2,9GHz mampu menjalankan satu workflow tanpa masalah. Tapi jangan menganggap saya ngoding sambil editing video, big no. Khusus untuk editing video, seperti yang kamu duga spesifikasi seperti itu tidaklah cukup. Untuk FCPX sendiri saya mesti banyak bersabar dan tidak bisa melakukannya dimana saja. Paling ideal di tempat yang suhu ruangannya dingin terjaga (ber-AC). Tapi untuk develop aplikasi web (dan mobile, sempat beberapa kali mencoba) masih sangat cukup sampai di tahun 2019. Saya sih berharap masih awet hingga 2 tahun lagi 😂 their price just too explosive for me to upgrade. Mungkin saya akan membuat postingan terpisah untuk review software lebih detail.

Dan tentunya user interface yang indah nan khas memanjakan mata. Khusus untuk tampilan sebenarnya balik lagi kepada selera masing – masing, meski saya akui tampilan macOS ini bukanlah yang terbaik tapi overall tidak ada sistem operasi lain yang memiliki konsistensi seperti macOS dari sisi tampilan. Fitur dan user experience nya sangat user oriented, bagi pengguna komputer awam sekalipun saya rasa akan mudah menguasai dan memakai laptop ini. Pada akhirnya saya berfikir bahwa harga langit yang dipatok oleh Apple mungkin memiliki nilai dari sisi pengembangan softwarenya (you can read my opinion deeply about it in this post).

Sekian review dari saya, bijaklah dalam memilih produk. Budayakan membaca dan riset terlebih dahulu berdasarkan pada prioritas penggunaan produk. Semoga tulisan ini bermanfaat. See ya~